Jumat, 18 November 2011

Membunuh Malam di Gunung Bunder

Malam ini langit cerah. Bintang-bintang terlihat bersinar menghiasi angkasa. Menerangi perjalanan kami ber-enam (Aku, Ode, Fahmi, Jeceng, Kipli dan Upil) menuju lokasi perkemahan Gunung Bunder, Bogor. Kami hendak menyusul teman-teman LAWALATA-IPB yang sudah berangkat ba'da isya' yang lalu. 

Hari ini pembukaan Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA) LAWALATA-IPB. 12 November 2011.

Banyak pengiat alam bebas, kelompok pecinta alam  dan peneliti berkegiatan di Gunung Bunder. Karena selain bumi perkemahan, juga terdapat jalur pendakian ke Kawah Ratu dan Gunung Salak. Bagi kami, LAWALATA-IPB sering mengadakan latihan Teknik Hidup Alam Bebas disini. Selain dekat dengan Kampus, juga hutan dan jalur pendakian cukup aman untuk melatih fisik.

Rabu, 09 November 2011

Gemerlap Pasar Malam Kota Chiangmai (bagian 1)



Malam di kota Chiang Mai, Thailand, sebuah  tuk-tuk menunggu di depan lobi hotel. Si sopir bersiap mengantar saya ke pasar malam di tengah kota. Jam 06.30, waktu Chiang Mai, saya mencoba kendaraan tuk tuk khas kota itu. Bicara soal tuk-tuk, kendaraan ini mirip dengan bajaj dengan kapasitas lebih besar. Tempat duduknya terdiri dua baris, penumpang saling berhadapan. Satu baris bisa diduduki oleh 4-5 orang dewasa. 

Di sepanjang jalan, tampak pedagang menjajakan aneka panganan khas tradisional Chiang Mai. Tak lama, saya pun sampai ketujuan yakni pasar malam yang dipenuhi gemerlap lampu. Pintu gerbangnya bertuliskan kalimat “Bon Voyage” kata dalam bahasa Prancis.

Gemerlap Pasar Malam di Kota Chiangmai (Bagian 2)



Semalam di Chiang Mai, Thailand, rasanya seperti memasuki kota peradaban kuno. Ya, Chiang Mai atau seringkali diucapkan Chiengmai, adalah kota terbesar kedua di Thailand. Konon, Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibukota kerajaan Lannathai.

Laman wikipedia menyebutkan Chiang Mai berarti kota baru. Raja Mengrai melengkapi kota baru ini dengan tembok kota serta parit-parit yang kokoh yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindungi dari serangan musuh, terutama Kerajaan Burma.

Kamis, 03 November 2011

Cerita dari Sungai Ping, Chiangmai

Suasana di Perahu
"We are going to dinner outside tonight at Riverside Reustaurant" Ahhh lega rasanya mendengar pengumuman dari Ale, Staff AIPP.

Artinya tidak perlu merogoh kantong untuk makan malam. Memang lembaran Bath dan/atau Dolar belum mengisi dompetku. Reimburse belum ada. Isinya hanya Rupiah, yang sengaja aku sisihkan untuk ongkos pulang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bogor nanti. 

***
Dua tuk-tuk telah menunggu kami di depan lobby Lake Resort Hotel, Chiangmai. Lakpa, staff AIPP memanggil orang-orang untuk cepat kesana. Tak kecuali aku yang saat itu sedang ber chating.

"Annas we should go now, peoples are waiting at lobby" kata Lakpa. 

"Ok Bos, i change my T-Shirt and put my laptop in the room first ya" jawabku, seraya mematikan komputer.

Selasa, 26 April 2011

Bronjong Bu Sarwi

Ribuan kilo jarak yang kau tempuh.
Lewati rintangan, untuk aku anakmu.
Ibu ku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki,,,penuh darah,,,penuh nanah.
Seperti Udara kasih yang engkau berikan.Tak sanggup ku membalas,,,,Ibu
Bait lagu Iwan Fals berjudul "Ibu" tersebut saya tulis sambil menyanyikannya dengan lirih. Gemetar tangan ini menyentuh key board, hampir saja jatuh air mataku. Terharu mengingat jasa pahlawan hidupku.

Seorang Ibu yang berkorban demi keluarga, apalagi anak-anaknya. Hujan badai, panas terik dihadapi. Batu dipecahkan, diangkat dari sungai, dipanggulnya ketepian. Demi melihat anaknya bisa sekolah secara layak seperti teman-temannya.

Sarwi namanya. Sosok Ibu yang tidak ada bandingnya bagiku. Bahkan kagumku melebihi semua pahlawan yang telah berjuang merebut kemerdekaan negeri ini. Kalo Kartini pahlawan bagi perempuan, Sarwi pahlawan buat kami. Putra-putrinya.