![]() |
| Intep yang masih lumayan utuh lah :) |
Murah meriah dan sehat :). Dijamin ketagian loh. Harganya bervariasi antara 5 ribu sampai 20 ribuan. tergantung besar kecilnya kemasan. Ada yang dibungkus secara utuh, ada juga yang diremuk jadi bungkusan kecil-kecil.
Setiap pulang kampung, baliknya ke Jakarta pasti Ibuku membungkuskan beberapa buah Intep. Untuk Cemilan dikereta kata Ibu. Namun sayang kalo dicemil dikereta menurutku. Aku simpen aja sampai di Jakarta nanti. Dinikmati dengan Teh hangat sambil ngetik di kantor,,,ehmmm kerasa di kampung. Teman-teman kantorpun suka Intep yang aku bawa.
Saya kurang tahu pasti ini cemilan khas solo atau bukan, karena dibeberapa tempat (di Jawa khususnya) dijual. Di stasiun Balapan, Solo juga berjejer penjual Intep ini. Yang pasti, dikampungku ada yang memproduksi.
Pakde Siman, begitu saya memanggil, tetanggaku yang hanya berselang satu rumah dari rumah orangtuaku. Bersama istrinya, Mbokde Yati sudah membuat Intep ini sejak lama. Skala “home industri”. Seingatku ketika saya SMP (tahun 99an) sudah sering Ibu membeli Intep Pakde Siman untuk cemilan keluarga.Juga kadang untuk dijual dipasar oleh Ibu.
Pakde Siman, begitu saya memanggil, tetanggaku yang hanya berselang satu rumah dari rumah orangtuaku. Bersama istrinya, Mbokde Yati sudah membuat Intep ini sejak lama. Skala “home industri”. Seingatku ketika saya SMP (tahun 99an) sudah sering Ibu membeli Intep Pakde Siman untuk cemilan keluarga.Juga kadang untuk dijual dipasar oleh Ibu.
Bagaimana cara membuatnya?, sebenarnya sederhana saja. Kerak nasi dijemur sampai kering, kemudian di Goreng. Persis seperti membuat kerupuk lah. Untuk memberi rasa Asin tinggal ditaburi garam secukupnya. Sedangkan rasa manis diberi Gula Jawa yang telah dicairkan. Tanpa garam ataupun Gula Jawa pun rasanya sudah gurih kok. Simple kan.
Permaslahannya adalah bahan baku yang semakin langka. Karena banyak warga sekitar sekarang yang sudah menggunakan “rice cooker” untuk memasak beras jadi nasi. Pakde Siman pun harus berkeliling sampai desa tetangga, bahkan ke pelosok2 untuk mencari bahan baku Intep.
Tentunya, dirumah-rumah warga yang masih menggunakan “liwetan dan dandang”. Itu lho yang tempat yang digunakan jika kita mau ngeliwet atau membuat nasi liwet. Kondisi ini yang membuat sulit memproduksi Intep dalam skala besar bagi Pakde Siman.
Namun sekarang ini nampaknya dia sudah punya “langganan” pemasok bahan baku. Karena saya perhatikan disuatu pagi, pas lagi nongkrong di depan rumah terlihat seorang ibu-ibu dengan “bronjong” penuh kerak nasi di rumah Pakde Siman.
Semoga saja Pakde Siman terus memproduksi Intep ini. Agar setiap saat saya bisa menikmati cemilan kesukaanku itu. Namun lebih jauh dari itu, sebenarnya ayah dari 2 orang ini ikut andil dalam melestarikan “cemilan” atau makanan tradisional.

0 comments:
Poskan Komentar