Untuk melihat fotostory, silahkan (klik disini)
Malam ini langit cerah. Bintang-bintang terlihat bersinar menghiasi angkasa. Menerangi perjalanan kami ber-enam (Aku, Ode, Fahmi, Jeceng, Kipli dan Upil) menuju lokasi perkemahan Gunung Bunder, Bogor. Kami hendak menyusul teman-teman LAWALATA-IPB yang sudah berangkat ba'da isya' yang lalu. Hari ini pembukaan Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA) LAWALATA-IPB. 12 November 2011.
Banyak pengiat alam bebas, kelompok pecinta alam dan peneliti berkegiatan di Gunung Bunder. Karena selain bumi perkemahan, juga terdapat jalur pendakian ke Kawah Ratu dan Gunung Salak. Bagi kami, LAWALATA-IPB sering mengadakan latihan Teknik Hidup Alam Bebas disini. Selain dekat dengan Kampus, juga hutan dan jalur pendakian cukup bagus untuk melatih fisik.
Gunung Bunder merupakan salah satu lokasi wisata yang berada di Kawasan Gunung Salak Endah (GSE). Kawasan yang dikelola Perhutani ini menawarkan wisata alam yang cocok untuk liburan akhir pekan. Pemandangan dan suasanya lebih asri jika dibandingkan dengan Puncak. Udaranya sejuk dengan suhu sekitar 13 - 23 derajat celsius. Bumi Perkemahan di hutan pinus dan rasamala, Curug atau air terjun, jalur pendakian ke Kawah Ratu, serta berbagai permainan seperti Flying Fox yang disajikan sangat cocok untuk liburan keluarga. Kalo tidak mau berkemping, disini juga ada vila-vila yang disewakan. Jalan menuju lokasi yang bebas polusi dan kemacetan, dapat menjadi terapi bagi yang setiap hari berhadapan dengan kesumpekan di kota besar, seperti Jakarta.
Menuju kelokasi relatif mudah dan aman. Kita bisa menggunakan kendaraan umum (Angkot) atau pribadi. Dari terminal bus Baranang Siang ke arah Darmaga (Kampus IPB) - lurus ke arah Ciampea. Ada dua pilihan jalur dari Ciampea, yaitu lewat Cibatok dan Cikampak. Kedua jalur ini akan sampai di pintu Gerbang masuk Gunung Bunder di Kecamatan Pamijahan, Bogor.
Kami memilih lewat Cikampak. Selain lebih pendek, juga relatif aman dengan kondisi kami yang mengendarai motor. Apalagi kami melakukan perjalanan dimalam hari. Kalau saja ban sepeda motor kempes, paling tidak bisa dititipkan disalah satu rumah penduduk.
Sampai digerbang, petugas menghentikan kami untuk meminta bayaran karcis masuk. Si Ode melarang untuk membayar, karena memang membawa Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang beberapa hari lalu dia urus ke Kantor Taman Nasional Gunung-Halimun Salak di Parung Kuda. Namun terjadi perdebatan antara Ode dengan petugas yang memaksa kita untuk tetap membayar. Alasannya surat sakti ini hanya berlaku di Kawasan Taman Nasional, sedangkan Gerbang hingga lokasi perkemahan masih dibawah pengelolaan perhutani/pemerintahan desa. Namun berkat kegigihan Ode akhirnya kami terbebas dari retribusi juga. Dia menjelaskan bahwa kami sudah bekerja sama dengan pihak Taman Nasional melakukan operasi bersih di Kawah Ratu. “Masak kita mau bersihin tempat mereka, kita yang harus bayar” kata Ode.
Untuk bisa melewati gerbang ini, umumnya setiap orang harus membayar karcis Rp. 3000,-, belum termasuk kendaraan. Satu Sepeda Motor dikenakan Rp. 2000,- sedangkan Mobil dikenakan Rp. 5000,-. Namun yang membuat kita jengkel kadang antara jumlah uang yang kita bayarkan dengan jumlah karcis tidak sesuai. Pernah kami kesana rombongan dengan menyewa angkot. Kami membayar untuk 10 orang, tapi petugas hanya memberikan 7 karcis.
***
Setelah sampai di lokasi perkemahan, kami memarkir motor didekat warung. Disana sudah ada teman-teman LAWALATA-IPB. Tas dan Carrier mereka sudah tergeletak di kursi. Malah sudah mengeluarkan kompor gas dan nesting, memasak air. Ada yang sudah tengkurap berselimut sarung, persiapan tidur. Nampaknya ini basecamp panitia malam ini, pikirku.
Aku, Kipli, Fahmi, Jeceng, Ode dan Upil, memilih untuk mencari tempat terbuka dibawah pohon cemara, di lokasi perkemahan. Disana terlihat calon MPCA yang sedang mendirikan bivak/tenda darurat menggunakan ponco. Mereka berjumlah 30 orang. Setiap bivak terdiri dari 2-3 orang. Kamipun kemudian memilih lokasi yang lebih tinggi. Selain mudah dalam pengawasan, juga kami tidak mau mengganggu istirahat calon peserta didik LAWALATA ini.
Meskipun tidak luas tapi masih ada tanah datar diatas, dekat kamar mandi. Berjarak sekitar 100 meter dari lokasi Calon MPCA berkemah. Dari sini kami bisa melihat aktifitas lampu-lampu senter mereka yang menyala. Cukup aman lah untuk antisipasi, jikalau ada sesuatu terjadi sama Calon MPCA.
Meskipun tidak luas tapi masih ada tanah datar diatas, dekat kamar mandi. Berjarak sekitar 100 meter dari lokasi Calon MPCA berkemah. Dari sini kami bisa melihat aktifitas lampu-lampu senter mereka yang menyala. Cukup aman lah untuk antisipasi, jikalau ada sesuatu terjadi sama Calon MPCA.
Kami tidak mendirikan Tenda/Fly Sheet atau Bivak seperti yang MPCA lakukan. Hanya matras dan ponco yang kami gelar untuk alas duduk/tidur. Sayang rasanya, jika melewatkan pemandangan malam yang diterangi sinar bulan dan gemerlap bintang-bintang diangkasa. Pemandangan hutan dimalam hari seperti ini, bagi kami pas dinikmati dengan gaya “koboi” an (cow boy style). Layaknya koboi di film yang tidur di padang beratap langit dengan api unggun di dekatnya. Membunuh dinginnya angin malam.
"Di lapangan itu yang asik ya begini" Celetuk si Jeceng (Adrian) sambil berusaha menyalakan api di tumpukan ranting-ranting cemara kering yang dia kumpulkan. Sesekali dia harus meniup bara dibawah tumpukan ranting-ranting agar api tetap menyala. Kalo sudah begini, api yang dibuat Jeceng kalah hangat jika dibandingkan canda, tawa dan cerita kami. Tak lama kemudian, Bang Saburo pun ikut gabung bersama kami. Raja Rendang ini bermain kartu Domino bersama Upil, Ode dan Ngus-ngus.
Kami memang lebih suka menghabiskan malam dengan bercanda dari pada harus tengkurap melawan dingin. Kipli sibuk mengumpulkan ranting-ranting disekitar. Jeceng tetap bergulat dengan apinya. Fahmi seperti biasa asik dengan nesting dan kompor gasnya, sedang mengaduk mie instan. Sedangkan aku jepret sana-sini mengabadikan aktifitas mereka. Meskipun punya kesibukan masing-masing, kami tetap saling cerita dan ejek-mengejek satu sama lain. Rasanya hanya suara canda tawa kami yang terdengar di lokasi perkemahan Pasir Kuray malam itu.
Kalo sudah begini, makanan apapun jadi nikmat disantap bersama-sama. Mie instan biasanya menjadi makanan favorit kita. Murah dan praktis penyajiannya. "Nih Bang Mie sudah siap" kata Fahmi seraya menyodorkan masakannya di Nesting ke Bang Saburo yang sedang berfikir memilih kartu mana yang harus dijatuhkan. Orang tua harus duluan kata Fahmi (bukan diskriminasi loh, tapi menghargai yang lebih senior). Namun beliau hanya makan sesuap sendok saja, dan langsung kembali asik bermain domino dengan ketiga gambler lainnya.
Ehmmm,,,dasar perut udah lapar dan ngak bisa lihat makanan nganggur, langsung aja kami serbu mie dalam nesting yang dicampakkan senior kita ini. Para gamblerpun jadi kehilangan konsentrasi sehingga mereka nimbrung untuk rebutan Mie. Setiap orang berusaha mengambil mie dengan sumpit bambu buatan Fahmi, layaknya baru pertama makan setelah berhari-hari puasa. Karena jumlah sumpit terbatas, terpaksa beberapa dari kami mengambil jalan pintas dengan menggunakan ranting-ranting pinus yang belum sempat terbakar di perapian. Takut ngak kebagian Mie.
Kalo sudah begini, makanan apapun jadi nikmat disantap bersama-sama. Mie instan biasanya menjadi makanan favorit kita. Murah dan praktis penyajiannya. "Nih Bang Mie sudah siap" kata Fahmi seraya menyodorkan masakannya di Nesting ke Bang Saburo yang sedang berfikir memilih kartu mana yang harus dijatuhkan. Orang tua harus duluan kata Fahmi (bukan diskriminasi loh, tapi menghargai yang lebih senior). Namun beliau hanya makan sesuap sendok saja, dan langsung kembali asik bermain domino dengan ketiga gambler lainnya.
Ehmmm,,,dasar perut udah lapar dan ngak bisa lihat makanan nganggur, langsung aja kami serbu mie dalam nesting yang dicampakkan senior kita ini. Para gamblerpun jadi kehilangan konsentrasi sehingga mereka nimbrung untuk rebutan Mie. Setiap orang berusaha mengambil mie dengan sumpit bambu buatan Fahmi, layaknya baru pertama makan setelah berhari-hari puasa. Karena jumlah sumpit terbatas, terpaksa beberapa dari kami mengambil jalan pintas dengan menggunakan ranting-ranting pinus yang belum sempat terbakar di perapian. Takut ngak kebagian Mie.
Karena bukan adat kami makan pakai sumpit, sehingga mengalami kesusahan. Tak jarang mie yang diangkat terjatuh kembali ke nesting. Namun justru saling berebut ini yang menjadi nilai kebersamaan. Meskipun tidak kenyang, karena memang hanya dua bungkus untuk tujuh orang, tapi nikmat rasanya. Karena bukan kenyang yang dicari, tapi keceriaan yang menjadikan santapan malam ala chef Fahmi ini tak tertandingi dengan masakan restoran manapun.
***
Malam semakin larut, dan bisa dibilang sudah pagi karena waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB. Bang Buro dan Hus-hus pindah ke Warung yang berada dibawah camping ground ini. Mereka bergabung dengan anak-anak L lainnya. Mungkin pikir mereka, lebih hangat disana ketimbang lesehan disini bersama kami.
Sejenak kami terdiam. Suasana tidak seramai sebelumnya. Si Upil mulai merebahkan badannya. Si Ode menghilang entah kemana. Begitu juga Kipli dan Jeceng yang pergi begitu saja meninggalkan api unggung yang sekarat. Ranting-ranting berubah jadi abu, dimakan oleh api, menyisakan asap yang membuat pedih mata dan sesak pernapasan.
Sementara itu, Aku dan Fahmi yang masih berbincang dengan suara pelan. Membicarakan kenangan masa-masa MPCA kita dulu, kondisi LAWALATA saat ini, sampai ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Maklum kalo dua orang yang sudah ber-umur berdua, bicaranya sok serius :). Tapi bukan curhat loh. hahahaha.
Ditengah keintiman kami (baca; lagi serius, takut disangka menyimpang. Hehehe) tiba-tiba Kipli muncul membawa kayu bakar. Napasnya tereng-engah, seperti orang habis lari ketakutan dikejar setan. Tapi dia tersenyum. Sambil nunduk, dia berbisik "eh Si Bangke (Ode) sedang asik nelpon disana" seraya menunjuk cahaya yang berasal dari headlamp didepan kita. Pantesan diam-diam perginya, batinku.
Kipli pun lalu menceritakan kejadian lucu yang dialaminya. Pasalnya, saat mencari kayu bakar disela-sela rerumputan, dia mendengar suara Ode yang sedang menelpon. "seseorang" yang special tentunya (demi keamanan dan privasi beliau, nama tidak disebutkan). Penasaran, Kipli merayap layaknya seorang tentara yang sedang mengintai musuh. Berkat kerja kerasnya, Kipli berhasil berkamuflase hingga mendekati target sampai berjarak 3-4 meter saja. Posisi ini membuat dia mendengarkan informasi penting (yang kemudian menjadi bahan ketawaan kami) dari pembicaraan Sang Target, Ode.
Ada yang membuat kita sampai terbahak-bahak dari cerita Kipli. Saat itu, dia merasa hampir ketahuan. Pasalnya, Ode tiba-tiba berdiri menghadap kearahnya. Handphone masih ditangan dan ditempelkan ditelinga. Sambil terus berbicara, tangan satunya membuka resleting, lalu kencing dengan posisi menghadap Kipli yang saat itu menunduk takut ketahuan. Penghalang antara mereka hanya rumput-rumput setinggi sekitar setengah meter saja. Tapi Ode tidak menyadari orang didepannya, mungkin sinar headlamp yang bikin silau, kata Kipli.
Perjuangan terberat adalah ketika harus menahan tawa, ketika Kipli mendengar bunyi yang tidak asing berasal dari Ode. Luar biasa memang, menelpon sambil kencing tapi masih ada tenaga untuk kentut. hahahahaha.
Kemudian si Jeceng muncul dengan tiba-tiba. Seperti Kipli waktu datang. Jeceng ketawa terputus-putus karena harus mengatur napasnya. Diapun menceritakan hal sama. Anehnya, mereka sama-sama tidak tahu bahwa saat itu sedang melakukan misi pengintaian. Si Jeceng saat itu berada dibalik pohon disamping Ode berdiri. Bukan merunduk, tapi sembunyi dibalik pohon yang lebih kecil dari lebar badannya.
Ketika, Ode kembali, dia menjadi bahan tertawa kita semua. "Eh jalur ke gunung sumbul gimana ya, trus kalo tarian dari Ambon apa namanya?" celoteh Kipli menyindir si Ode ketika datang. Pagi itu, pembicaraan Ode di Telepon menjadi bahan bercanda. Saking berisiknya, sampai-sampai suara kami membangunkan Upil yang sedang tertidur.
Tak terasa, tiba-tiba sinar matahari sudah menerobos disela-sela pohon Pinus. Mengganggu kami yang sudah lelah tertawa dan mencoba untuk memejamkan mata. Waktu untuk tidurpun tinggal beberapa jam saja. Karena kami harus naik ke Kawah Ratu jam 7 Pagi. Semua orang berusaha untuk tidur dengan mengambil posisi senyaman mungkin. Kipli tiduran di hammoack yang dibentangkan Ode malam tadi. Namun semua usaha sia-sia, kita tetap tidak bisa tidur.
Meskipun demikian kami senang bisa merasakan kembali kecerian yang sering kita lakukan pada waktu aktif sebagai mahasiswa aktif anggota LAWALATA-IPB. Menikmati kebersamaan, ditengah kehangatan malam dengan dengan canda tawa.
Sejenak kami terdiam. Suasana tidak seramai sebelumnya. Si Upil mulai merebahkan badannya. Si Ode menghilang entah kemana. Begitu juga Kipli dan Jeceng yang pergi begitu saja meninggalkan api unggung yang sekarat. Ranting-ranting berubah jadi abu, dimakan oleh api, menyisakan asap yang membuat pedih mata dan sesak pernapasan.
Sementara itu, Aku dan Fahmi yang masih berbincang dengan suara pelan. Membicarakan kenangan masa-masa MPCA kita dulu, kondisi LAWALATA saat ini, sampai ke hal-hal yang sifatnya pribadi. Maklum kalo dua orang yang sudah ber-umur berdua, bicaranya sok serius :). Tapi bukan curhat loh. hahahaha.
Ditengah keintiman kami (baca; lagi serius, takut disangka menyimpang. Hehehe) tiba-tiba Kipli muncul membawa kayu bakar. Napasnya tereng-engah, seperti orang habis lari ketakutan dikejar setan. Tapi dia tersenyum. Sambil nunduk, dia berbisik "eh Si Bangke (Ode) sedang asik nelpon disana" seraya menunjuk cahaya yang berasal dari headlamp didepan kita. Pantesan diam-diam perginya, batinku.
Kipli pun lalu menceritakan kejadian lucu yang dialaminya. Pasalnya, saat mencari kayu bakar disela-sela rerumputan, dia mendengar suara Ode yang sedang menelpon. "seseorang" yang special tentunya (demi keamanan dan privasi beliau, nama tidak disebutkan). Penasaran, Kipli merayap layaknya seorang tentara yang sedang mengintai musuh. Berkat kerja kerasnya, Kipli berhasil berkamuflase hingga mendekati target sampai berjarak 3-4 meter saja. Posisi ini membuat dia mendengarkan informasi penting (yang kemudian menjadi bahan ketawaan kami) dari pembicaraan Sang Target, Ode.
Ada yang membuat kita sampai terbahak-bahak dari cerita Kipli. Saat itu, dia merasa hampir ketahuan. Pasalnya, Ode tiba-tiba berdiri menghadap kearahnya. Handphone masih ditangan dan ditempelkan ditelinga. Sambil terus berbicara, tangan satunya membuka resleting, lalu kencing dengan posisi menghadap Kipli yang saat itu menunduk takut ketahuan. Penghalang antara mereka hanya rumput-rumput setinggi sekitar setengah meter saja. Tapi Ode tidak menyadari orang didepannya, mungkin sinar headlamp yang bikin silau, kata Kipli.
Perjuangan terberat adalah ketika harus menahan tawa, ketika Kipli mendengar bunyi yang tidak asing berasal dari Ode. Luar biasa memang, menelpon sambil kencing tapi masih ada tenaga untuk kentut. hahahahaha.
Kemudian si Jeceng muncul dengan tiba-tiba. Seperti Kipli waktu datang. Jeceng ketawa terputus-putus karena harus mengatur napasnya. Diapun menceritakan hal sama. Anehnya, mereka sama-sama tidak tahu bahwa saat itu sedang melakukan misi pengintaian. Si Jeceng saat itu berada dibalik pohon disamping Ode berdiri. Bukan merunduk, tapi sembunyi dibalik pohon yang lebih kecil dari lebar badannya.
Ketika, Ode kembali, dia menjadi bahan tertawa kita semua. "Eh jalur ke gunung sumbul gimana ya, trus kalo tarian dari Ambon apa namanya?" celoteh Kipli menyindir si Ode ketika datang. Pagi itu, pembicaraan Ode di Telepon menjadi bahan bercanda. Saking berisiknya, sampai-sampai suara kami membangunkan Upil yang sedang tertidur.
Tak terasa, tiba-tiba sinar matahari sudah menerobos disela-sela pohon Pinus. Mengganggu kami yang sudah lelah tertawa dan mencoba untuk memejamkan mata. Waktu untuk tidurpun tinggal beberapa jam saja. Karena kami harus naik ke Kawah Ratu jam 7 Pagi. Semua orang berusaha untuk tidur dengan mengambil posisi senyaman mungkin. Kipli tiduran di hammoack yang dibentangkan Ode malam tadi. Namun semua usaha sia-sia, kita tetap tidak bisa tidur.
Meskipun demikian kami senang bisa merasakan kembali kecerian yang sering kita lakukan pada waktu aktif sebagai mahasiswa aktif anggota LAWALATA-IPB. Menikmati kebersamaan, ditengah kehangatan malam dengan dengan canda tawa.

ceritanya bagus bisa membuat orang etrtawa terbahak-bahak
BalasHapus