Dua tuk-tuk telah menunggu kami di depan lobby Green Lake Resort Hotel. Lakpa, staff AIPP memanggil orang-orang untuk cepat kesana. tak kecuali aku yang sedang ber chating ria. "Annas we should go now, peoples are waiting at lobby" begitu katanya. "Ok Bos, i change my T-Shirt and put laptop in my room first ya" jawabku dengan gaya bahasa campuran, seraya mematikan komputer.
![]() |
| Suasana di Perahu |
Perjalanan dari Green Lake Resort, tempat kami menginap sekitar 15 menit. Turun dari tuk-tuk, sekilas tempat makan ini tidak begitu istimewa bagi kami. Seperti kebanyakan restoran yang aku temui disepanjang jalan tadi.
Namun, yang membuat istimewa ketika kita kebelakang restoran yang merupakan pinggir sungai. Disana terdapat dua perahu yang disediakan untuk tempat makan. Di dalam perahu tertata meja panjang, dengan kursi melingkar berjumlah sekitar 30 buah.
Dipinggir perahu terlihat dua orang temanku, Joan dan Rhicard yang sedang merokok. Sayapun bergabung dengan komunitas asap ini. "this is the last place for smoking, before dinner", kata Rhicard. Benar kata dia, di tiang kapal ada tanda dilarang merokok. Artinya dua jam kedepan kita akan "puasa asap" didalam perahu saat makan malam. Selesai merokok kemudian kami masuk dalam kapal.
"wow, this is really romantic" kata sao, cewek chiangmai yang duduk disebelahku setelah perahu mulai berlayar. Dengan penerangan dari lampu teplok dan lilin membuat suasana menjadi hangat. Justru pemandangan dipinggir sungai menjadi lebih indah untuk dinikmati. .
Kamipun bercanda ria sembari menunggu hidangan yang disiapkan oleh pelayan kapal. Karena sedikit gelap, sampai-sampai harus mendekatkan lilin ketika mengambil makanan. Namun suasananya justru membuat aku semakin lahap menyantap nila goreng, ayam rica-rica dan tom yam didepanku.Suasana sejenak hening, hanya terkadang terdengar sesekali berbisik satu sama lain. Mungkin sedang menikmati makanan, seperti aku.
Perahu ini berlayar menyusuri sungai Ping selama kurang lebih dua jam. Selama itu pula lampu-lampu dari restoran pinggir sungai, gedung-gedung perkantoran yang megah, serta suasana jalan raya dengan berbagai aktifitas manusia menjadi pemandangan indah bagi kami.
Namun satu hal yang tidak bisa aku lakukan yaitu merokok. Ada anekdot, Orang jawa bilang "Wes mangan ra udut enek" (habis makan tidak merokok rasanya eneg). hehehehe. Namun kegelisahanku itu terobati dengan canda-tawa bersama teman-teman.
Tak terasa dua jam sudah berlalu, perahupun sebentar lagi berlabuh. Spontan saya teriak "Yes finally i can smoke again. Article No 21 of UN Declaration. Right to Smoking" seraya mengangkat tangan kanan. Orang-orang disekitar tertawa melihat tingkah anehku itu. hehehehehehe.
Kenangan di Riverside Restaurant, Sungai Ping. Chiangmai.

0 comments:
Poskan Komentar