Tulisan oleh Via Mardiana "Pucuk"
Sabtu, 3 Desember 2011. Aku mengepak Perlengkapan Jalan Mandiri (PJM) kedalam tas ransel, setelah memastikan semua lengkap. Dengan ransel dipunggung, Aku melangkah meninggalkan Asrama TPB menuju sekretariat LAWALATA-IPB.
Hari
ini, merupakan materi lapang ke-tiga sejak Aku resmi menjadi anggota Masa
Pembinaan Calon Anggota (MPCA). Rencananya, bersama anggota MPCA lainnya,
akan praktek simulasi Search and Rescue
(SAR) di Kawasan Gunung Salak. Tepatnya di Kampung Tapos, Kecamatan Cijeruk,
Kabupaten Bogor.
Sekitar pukul 13.00 WIB, Aku dan
ke-12 MPCA lainnya sudah berkumpul di depan secretariat LAWALATA-IPB. Disana,
kakak-kakak senior sudah menunggu. Lalu kami berbaris untuk upacara pembukaan.
Ketua MPCA, M. Firdaus melaporkan kondisi tim. Dari 16 orang, 4 temanku tidak
hadir tanpa keterangan. Ehmmm siap-siap dihukum, pikirku.
Lebih kaget lagi, dua orang temanku,
Cyntia dan Bunga mengundurkan diri. Dari awal Aku tidak menyangka hal ini. Mereka
selama ini semangat dan serius mengikuti kegiatan. Dari pengakuan Cyntia, baru
Aku tahu bahwa orang tuanya melarang mereka untuk mengikuti kegiatan MPCA lagi.
Kalo begini ceritanya, Akupun sebagai saudara seperjuangan hanya bisa pasrah.
Memang
sedikit mengganggu konsentrasi, namun Aku harus merelakan mereka. Bahkan Aku
masih merenungi kejadian tadi ketika melakukan olah raga, pemanasan.
Setelah
olah raga, Kami mengikuti materi dari Kak Alam tentang Search And Rescue atau
SAR sebagai bekal dilapangan nanti. Intinya, SAR adalah mencari dan
menyelamatkan korban yang hilang di hutan, laut atau tempat lainnya yang belum
diketahui. Saat ini, pembahasan SAR di hutan atau gunung. Karena memang kami
akan mempraktekkan di sana.
Selesai
materi, senior memeriksa kelengkapan PJM yang kami bawa. Di depan Wall Climbing
dekat lapangan Tennis, Aku dan MPCA lainnya dikumpulkan. Senior memberi intruksi
agar seluruh isi tas ransel harus dikeluarkan dalam beberapa menit. Kemudian Kak
Yana memeriksa barang bawaan kami satu persatu. Sesuai dengan kesepakatan
sebelumnya, setiap items tidak ada, maka kami mendapat 1 seri hukuman (1 seri =
10 kali push-up / sit-up). Hasil pemeriksaan, secara kelompok kami mendapat 122,5
seri (hutang) hukuman.
Dengan
alasan kebersamaan, Kak Yana membagi semua logistic menjadi 3 kelompok. Saling
melengkapi kekurangan yang ada di kami. Setelah selesai, kami diberi waktu 5 menit
untuk packing. Seorang teman kami, Faradina Puspita Rivanisa, mendapat nama
lapangan “Lele”. Mungkin plesetan dari kata lelet J.
***
(Perjalanan ke Hutan Pinus, Kampung Tapos)
Waktu
sholat Ashar pun tiba. Senior memberi waktu 20 menit untuk istirahat dan
beribadah sembari menunggu Angkot carteran datang. Aku dan MPCA
yang muslim bergegas menuju Masjid Alhurriah. Sedangkan yang tidak sholat,
menata carrier. Siap-siap berangkat.
Angkot
yang ditunggupun datang. Lalu kami memasukkan tas Ransel. Sebenarnya ada satu
teman yang kami tunggu, Soni. Namun hingga pukul empat lewat, dia belum juga
datang. Terpaksa kami tinggalkan.
Dari
Kampus IPB menuju Kampung Tapos sekitar 1 – 2 jam perjalanan. Dalam kondisi jalan
tidak macet parah. Jika baik reguler, dari kampus ke pasar bogor. Kemudian naik
angkot yang ada tulisan “Boogie”.
Sekitar
pukul 17.30 WIB, kami sampai di tempat tujuan. Kemudian kami berjalan kaki
melewati pekarangan dan kebun warga. Kondisi jalan tanah dan menanjak. Selama
berjalan, Senior menugaskan untuk membuat sketsa jalur yang dilewati.
Kurang
lebih satu jam perjalanan, kami beristirat. Kami singgah di rumah salah satu
warga, Pak Otang namanya. Kata kakak senior, beliau adalah anggota kehormatan
LAWALATA-IPB. Gelar yang didapat karena dedikasinya.
Aku
kenal Pak Otang, saat praktek materi Jungle
Survival. Sebagai orang asli Kampong Tapos, beliau sering membantu
LAWALATA-IPB saat berkegiatan di sini. Pak Otang juga ahli dalam
mengidentifikasi tanaman yang dapat dimakan di hutan, membuat tenda darurat atau "bivak" dan
membuat api. Tak heran jika beliau sering diminta untuk memberikan materi
kepada MPCA.
Karena
waktu magrib hampir habis, senior memberi waktu kami sholat dirumah Pak Otang.
Selesai sholat kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju hutan Pinus. Tempat
kami akan menginap mala ini.
Aku
sempat bingung, karena lupa dimana menyimpan senter. Karena harus bergegas,
maka Akupun berjalan tanpa senter. Untuk penerangan, teman belakang dan depanku
yang aku andalkan.
Meskipun
menanjak dan licin, kami mempercepat langkah kaki. Harus mengejar senior
yang sudah jalan didepan. Kalo tidak kami pasti akan tersesat. Karena jalur melewati kebun penduduk yang banyak cabangnya.
Berjalan
cukup lama, akhirnya senior member tanda kepada kami untuk berhenti. Di tengah
hutan Pinus. Waktu menunjukkan pukul 20.00 lewat. Lalu Senior membagi kami
menjadi beberapa kelompok. Aku satu kelompok dengan Merind dan Emma. Waktu yang
diberikan 2 jam untuk membuat bivak dan ishoma. Meskipun semuanya perempuan, kelompokku berhasil membuat bivak yang cukup nyaman
buat bertiga.
Waktu
terasa singkat. Ketua MPCA, M. Firdaus datang ke camp kami dan
memberi tahu kalo waktu sudah habis. Terdengar juga teriakan senior yang
menyuruh kumpul. Lalu Aku dan kedua temanku berlari ke arah
sumber suara.
Atas
instruksi senior, kami berdiri 2 baris dan saling memunggungi satu sama lain.
Senior memberi waktu untuk menanyakan semua hal tentang teman yang ada
dibelakangnya masing-masing. Semua harus dihafal, karena nanti akan ditanyakan.
Aku dan teman dibelakang, Anisa “tole”, saling bertanya satusama lain seperti
yang dilakukan pasangan lainnya.
Tiba
waktunya Senior menguji kedekatan kami. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan
senior, tentang nama nenek dari Anisa. Begitu juga Anisa “tole” yang tidak bisa menjawab pertanyaan seputar diriku. Dia
diberi hukuman untuk bernyanyi dan menari dihadapan teman-teman MPCA dan
Senior.
Selesai
perkenalan, kami membayar “hutang” tadi sore. Malam ini kami membayar 50 seri
push-up dan sit-up. Sewaktu menjalankan hukuman, Aku merasakan solidaritas
diantara MPCA semakin tumbuh. Terasa saat melakukan sit-up dan push-up komando.
Kerjasama dan tolensi sangat terasa ketika bersama-sama, meskipun melakukan
pekerjaan yang berat.
Tengah
malam, sekitar pukul 00.30 WIB kami menyelesaikan hukuman. Senior member
intruksi untuk kembali ke bivak dan beristirahat. Besok kita harus siap pukul
06.00 WIB dalam keadaan sudah makan, membereskan tempat tidur, dan sudah olah
raga. Pemanasan sebelum beraktivitas.
Penulis adalah anggota dari Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA) LAWALATA-IPB 2011-2012.
0 comments:
Poskan Komentar