Selasa, 03 Januari 2012

Simulasi SAR MPCA LAWALATA-IPB (Bagian Pertama)

Tulisan oleh Via Mardiana "Pucuk"

Sabtu, 3 Desember 2011. Aku mengepak Perlengkapan Jalan Mandiri (PJM) kedalam tas ransel, setelah memastikan semua lengkap. Dengan ransel dipunggung, Aku melangkah meninggalkan Asrama TPB menuju sekretariat LAWALATA-IPB.

Hari ini, merupakan materi lapang ke-tiga sejak Aku resmi menjadi anggota Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA). Rencananya, bersama anggota MPCA lainnya, akan praktek simulasi Search and Rescue (SAR) di Kawasan Gunung Salak. Tepatnya di Kampung Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Sekitar pukul 13.00 WIB, Aku dan ke-12 MPCA lainnya sudah berkumpul di depan secretariat LAWALATA-IPB. Disana, kakak-kakak senior sudah menunggu. Lalu kami berbaris untuk upacara pembukaan. Ketua MPCA, M. Firdaus melaporkan kondisi tim. Dari 16 orang, 4 temanku tidak hadir tanpa keterangan. Ehmmm siap-siap dihukum, pikirku.

Lebih kaget lagi, dua orang temanku, Cyntia dan Bunga mengundurkan diri. Dari awal Aku tidak menyangka hal ini. Mereka selama ini semangat dan serius mengikuti kegiatan. Dari pengakuan Cyntia, baru Aku tahu bahwa orang tuanya melarang mereka untuk mengikuti kegiatan MPCA lagi. Kalo begini ceritanya, Akupun sebagai saudara seperjuangan hanya bisa pasrah.

Memang sedikit mengganggu konsentrasi, namun Aku harus merelakan mereka. Bahkan Aku masih merenungi kejadian tadi ketika melakukan olah raga, pemanasan.

Setelah olah raga, Kami mengikuti materi dari Kak Alam tentang Search And Rescue atau SAR sebagai bekal dilapangan nanti. Intinya, SAR adalah mencari dan menyelamatkan korban yang hilang di hutan, laut atau tempat lainnya yang belum diketahui. Saat ini, pembahasan SAR di hutan atau gunung. Karena memang kami akan mempraktekkan di sana.

Selesai materi, senior memeriksa kelengkapan PJM yang kami bawa. Di depan Wall Climbing dekat lapangan Tennis, Aku dan MPCA lainnya dikumpulkan. Senior memberi intruksi agar seluruh isi tas ransel harus dikeluarkan dalam beberapa menit. Kemudian Kak Yana memeriksa barang bawaan kami satu persatu. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, setiap items tidak ada, maka kami mendapat 1 seri hukuman (1 seri = 10 kali push-up / sit-up). Hasil pemeriksaan, secara kelompok kami mendapat 122,5 seri (hutang) hukuman.

Dengan alasan kebersamaan, Kak Yana membagi semua logistic menjadi 3 kelompok. Saling melengkapi kekurangan yang ada di kami. Setelah selesai, kami diberi waktu 5 menit untuk packing. Seorang teman kami, Faradina Puspita Rivanisa, mendapat nama lapangan “Lele”. Mungkin plesetan dari kata lelet J.

***
(Perjalanan ke Hutan Pinus, Kampung Tapos)

Waktu sholat Ashar pun tiba. Senior memberi waktu 20 menit untuk istirahat dan beribadah sembari menunggu Angkot carteran datang. Aku dan MPCA yang muslim bergegas menuju Masjid Alhurriah. Sedangkan yang tidak sholat, menata carrier. Siap-siap berangkat.

Angkot yang ditunggupun datang. Lalu kami memasukkan tas Ransel. Sebenarnya ada satu teman yang kami tunggu, Soni. Namun hingga pukul empat lewat, dia belum juga datang. Terpaksa kami tinggalkan.

Dari Kampus IPB menuju Kampung Tapos sekitar 1 – 2 jam perjalanan. Dalam kondisi jalan tidak macet parah. Jika baik reguler, dari kampus ke pasar bogor. Kemudian naik angkot yang ada tulisan “Boogie”.

Sekitar pukul 17.30 WIB, kami sampai di tempat tujuan. Kemudian kami berjalan kaki melewati pekarangan dan kebun warga. Kondisi jalan tanah dan menanjak. Selama berjalan, Senior menugaskan untuk membuat sketsa jalur yang dilewati.

Kurang lebih satu jam perjalanan, kami beristirat. Kami singgah di rumah salah satu warga, Pak Otang namanya. Kata kakak senior, beliau adalah anggota kehormatan LAWALATA-IPB. Gelar yang didapat karena dedikasinya.

Aku kenal Pak Otang, saat praktek materi Jungle Survival. Sebagai orang asli Kampong Tapos, beliau sering membantu LAWALATA-IPB saat berkegiatan di sini. Pak Otang juga ahli dalam mengidentifikasi tanaman yang dapat dimakan di hutan, membuat tenda darurat atau "bivak" dan membuat api. Tak heran jika beliau sering diminta untuk memberikan materi kepada MPCA.

Karena waktu magrib hampir habis, senior memberi waktu kami sholat dirumah Pak Otang. Selesai sholat kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju hutan Pinus. Tempat kami akan menginap mala ini.

Aku sempat bingung, karena lupa dimana menyimpan senter. Karena harus bergegas, maka Akupun berjalan tanpa senter. Untuk penerangan, teman belakang dan depanku yang aku andalkan.

Meskipun menanjak dan licin, kami mempercepat langkah kaki. Harus mengejar senior yang sudah jalan didepan. Kalo tidak kami pasti akan tersesat.  Karena jalur  melewati kebun penduduk yang banyak cabangnya.

Berjalan cukup lama, akhirnya senior member tanda kepada kami untuk berhenti. Di tengah hutan Pinus. Waktu menunjukkan pukul 20.00 lewat. Lalu Senior membagi kami menjadi beberapa kelompok. Aku satu kelompok dengan Merind dan Emma. Waktu yang diberikan 2 jam untuk membuat bivak dan ishoma. Meskipun semuanya perempuan, kelompokku berhasil membuat bivak yang cukup nyaman buat bertiga.

Waktu terasa singkat. Ketua MPCA, M. Firdaus datang ke camp kami dan memberi tahu kalo waktu sudah habis. Terdengar juga teriakan senior yang menyuruh kumpul. Lalu Aku dan kedua temanku berlari ke arah sumber suara.

Atas instruksi senior, kami berdiri 2 baris dan saling memunggungi satu sama lain. Senior memberi waktu untuk menanyakan semua hal tentang teman yang ada dibelakangnya masing-masing. Semua harus dihafal, karena nanti akan ditanyakan. Aku dan teman dibelakang, Anisa “tole”, saling bertanya satusama lain seperti yang dilakukan pasangan lainnya.

Tiba waktunya Senior menguji kedekatan kami. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan senior, tentang nama nenek dari Anisa. Begitu juga Anisa “tole” yang tidak bisa menjawab pertanyaan seputar diriku. Dia diberi hukuman untuk bernyanyi dan menari dihadapan teman-teman MPCA dan Senior.

Selesai perkenalan, kami membayar “hutang” tadi sore. Malam ini kami membayar 50 seri push-up dan sit-up. Sewaktu menjalankan hukuman, Aku merasakan solidaritas diantara MPCA semakin tumbuh. Terasa saat melakukan sit-up dan push-up komando. Kerjasama dan tolensi sangat terasa ketika bersama-sama, meskipun melakukan pekerjaan yang berat.

Tengah malam, sekitar pukul 00.30 WIB kami menyelesaikan hukuman. Senior member intruksi untuk kembali ke bivak dan beristirahat. Besok kita harus siap pukul 06.00 WIB dalam keadaan sudah makan, membereskan tempat tidur, dan sudah olah raga. Pemanasan sebelum beraktivitas.

Penulis adalah anggota dari Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA) LAWALATA-IPB 2011-2012. 

0 comments:

Poskan Komentar