Rabu, 09 November 2011

Gemerlap Pasar Malam di Kota Chiangmai (Bagian 2)



Semalam di Chiang Mai, Thailand, rasanya seperti memasuki kota peradaban kuno. Ya, Chiang Mai atau seringkali diucapkan Chiengmai, adalah kota terbesar kedua di Thailand. Konon, Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibukota kerajaan Lannathai.

Laman wikipedia menyebutkan Chiang Mai berarti kota baru. Raja Mengrai melengkapi kota baru ini dengan tembok kota serta parit-parit yang kokoh yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindungi dari serangan musuh, terutama Kerajaan Burma.



Tapi itu kisah masa lampau Chiang Mai, berganti-ganti kekuasaan karena invasi. Namun sejak menjadi bagian Siam dan dipimpin Raja Taksin, Chiang Mai berkembang menjadi pusat kebudayaan, ekonomi dan perdagangan yang penting setelah kota Bangkok. Kini, Chiang Mai menjadi kota tujuan wisata yang digemari turis-turis asing karena kaya peninggalan situs-situs budaya kuno.

Di kota ini ada 300an wat atau kuil Budha yang tersebar di pelosok Chiang Mai. Kuil-kuil didirikan sejak pendirian kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Kita bisa mengunjungi berbagai kuil bersejarah seperti kuil Phrathat Doi Suthep, Chiang Man, Phra Singh, Chedi Luang, Chet Yot, Wiang Kum Kam, U-Mong dan Suan Dok.

Rasa Lapar yang Melilit

Di Chiang Mai, tak sulit mencari rumah makan dengan sajian kuliner yang menggoyang lidah.  Dari mulai restoran Cina, Eropa hingga yang lesehan. Kebanyakan restoran menyediakan masakan, seperti sea food segar. Kita dapat langsung memilih ikan segar ditumpukan es, untuk makan malam. Saya terpaksa menahan selera makan malam itu. “Oh mahalnya...” Ketika melihat daftar harga menu yang ditunjukkan pelayan di papan  restoran.

Di ujung pasar, saya menemukan warung makan yang pas dengan isi dompet. Terpampang tulisan "30   Fried Rice". Di sampingnya, terdapat warung minuman. "Fresh Fruit shake" begitu tulisan di spanduk warung itu.  Saya lantas memesan kelapa muda segar seharga 20 bath dan nasi goreng seharga 30 bath. 

Meskipun terkesan sederhana, tempatnya cukup bersih. Pembeli disediakan meja makan pendek dan 4 kursi kecil di sekelilingnya. Sebenarnya saya lebih suka duduk lesehan. Sayangnya, tak ada tikar untuk duduk. Di sudut lain, saya melihat 3 meja disajikan cabe dan sayur lalapan, seperti kubis dan tokolan.

Perut kenyang, hati pun senang. Selesai menyantap makanan, saya berjalan di sekeliling pasar malam. Kali ini saya menuju gerbang tempat tuk tuk mangkal yang menjemput pulang. Saya jalan menyusuri gang yang berbeda dari sebelumnya-- agar dapat melihat barang-barang unik yang dijajakan pedagang.

Pemandangan gang itu, banyak menyuguhkan patung-patung yang dipamerkan untuk dijual. Sebagian besar patung dilarang untuk difoto. Ada patung Budha, patung gajah dan juga replika vihara. Semua terbuat dari bahan kayu dan tembaga. Sungguh senangnya, saat saya mendapat ijin untuk memotret-- seorang yang sibuk mengukir tembaga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar