Langsung ke konten utama

Mencari Pelangi



Pelangi,,,
Di angkasa indah menghiasi
Pancaran warnamu menentramkan hati
Namun kenapa engkau tak muncul lagi
Kemanakah engkau pergi

Mungkin engkau malu dengan keadaan ini
Melihat negeri ini tidak seindah dulu lagi


Dulu,,,
Negeri ini makmur
Tanah-tanahnya subur
Orang-orang pulas tertidur
Bahkan ada yang mendengkur

Kini,,,
Semuanya telah hancur
Tanah-tanah tergusur
Akibat ulah manusia yang tak terukur
Bahkan pelangiku ikut terkubur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa untuk Keponakanku

" Mas aku wis lahiran, jam 7 pagi tadi,,, " sms dari Atin, adikku yang baru saja melahirkan. Akupun spontan langsung bangun dari tempat tidur. Kaget dan masih linglung. Kemudian saya langsung menelopon nomor yang sms tadi untuk memastikan kebenaran dari berita gembira ini. 25 Maret 2012,,,baru sekitar dua minggu yang lalu kabar gembira itu aku terima. Senang rasanya mendengar Adikku bahagia. Pasalnya Dia sempat mengalami keguguran pada kehamilan yang pertama. Sejak saat itu, saya meminta dia untuk terus berkonsultasi ke dokter untuk memastikan kejadian tersebut tidak terulang lagi.

Gemerlap Pasar Malam di Kota Chiangmai (Bagian 2)

Dimuat di  http://satulingkar.com/detail/read/9/209/gemerlap-pasar-malam-kota-chiang-mai-bagian-2 Semalam di Chiang Mai, Thailand, rasanya seperti memasuki kota peradaban kuno. Ya, Chiang Mai atau seringkali diucapkan Chiengmai, adalah kota terbesar kedua di Thailand. Konon, Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibukota kerajaan Lannathai. Laman wikipedia menyebutkan Chiang Mai berarti kota baru. Raja Mengrai melengkapi kota baru ini dengan tembok kota serta parit-parit yang kokoh yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindungi dari serangan musuh, terutama Kerajaan Burma.

Gemerlap Pasar Malam Kota Chiangmai (bagian 1)

Dimuat di  http://satulingkar.com/detail/read/9/200/gemerlap-pasar-malam-kota-chiang-mai-bagian-i   Malam di kota Chiang Mai, Thailand, sebuah  tuk-tuk menunggu di depan lobi hotel. Si sopir bersiap mengantar saya ke pasar malam di tengah kota. Jam 06.30, waktu Chiang Mai, saya mencoba kendaraan tuk tuk khas kota itu. Bicara soal tuk-tuk, kendaraan ini mirip dengan bajaj dengan kapasitas lebih besar. Tempat duduknya terdiri dua baris, penumpang saling berhadapan. Satu baris bisa diduduki oleh 4-5 orang dewasa.  Di sepanjang jalan, tampak pedagang menjajakan aneka panganan khas tradisional Chiang Mai. Tak lama, saya pun sampai ketujuan yakni pasar malam yang dipenuhi gemerlap lampu. Pintu gerbangnya bertuliskan kalimat “ Bon Voyage ” kata dalam bahasa Prancis.